Senin, 20 April 2009


Ini Hasil Analisis Filologi

Tulisan Dalam Bahasa Arab (Dok. GATRA)BUKU Die syro-aramaeische Lesart des Koran, sudah tiga tahun terbit. Namun jati diri penulisnya tetap tersamar di balik nama Christoph Luxenberg. Siapa sebenarnya "Profesor Bahasa Semitik dari Universitas Terkemuka Jerman" ini? Para akademisi di Jerman yang ditanya GATRA tidak mengenal dia. Hingga akhirnya, kontributor GATRA di Jerman, Anett Keller, berkenalan dengan Dr. Ralph Ghadban.

Warga Lebanon yang baru menyelesaikan Ph.D bidang Politik dan Kajian Islam di Freie Universitat Berlin ini, ternyata kawan dekat Luxenberg. ''Dia biasanya menolak diwawancarai, tapi saya akan coba," ujarnya ketika diminta membantu GATRA mewawancarai Luxenberg.

Wartawan GATRA Asrori S. Karni menitipkan pertanyaan tertulis lewat Ghadban. Surprise! Jumat malam pekan lalu, Ghadban mengirim surat elektronik, ''Saya kirimkan attachment berisi hasil wawancara Anda dengan Christoph Luxenberg.'' Berikut petikannya:

Mengapa Anda memakai nama samaran?

Saya mengikuti nasihat teman-teman muslim saya, yang tahu karya saya, dan bisa menduga akibatnya. Mereka menyesal, tidak semua kaum muslim cukup terdidik untuk mengikuti penggalian filologis saya. Saya harus siap menghadapi reaksi yang tak terduga.

Apa karya yang sudah Anda tulis?

Buku pertama terbit tahun 2000 di Berlin. Judulnya Die syro-Aramische Lesart des Koran. Edisi Inggrisnya sedang dipersiapkan. Buku berikutnya, dalam bahasa Jerman, akan terbit awal 2004.

Apa sebenarnya gagasan utama Anda tentang asal usul Al-Quran?

Pepatah Arab mengatakan, ''Orang mengenal buku dari judulnya''. Kata ''Qur'an'' sebagai judul Kitab Suci kaum muslim, awalnya (dan sampai kini masih) merujuk buku liturgi Gereja Kristen-Syria. Buku ini memuat artikel tertentu dari Bibel (Perjanjian Lama dan Baru) yang dibacakan dalam kebaktian Kristen.

Orang mengenal esensi Kristen dari Al-Quran, terutama dalam surat-surat periode Mekkah pertama. Pada periode Mekkah kedua, bermulanya dakwah terhadap masyarakat penyembah berhala (pagan) di metropolitan (Arabnya: Umm al-Qura = Mekkah) dan sekitarnya perlu diperhatikan. Bersama itu, Alkitab (Perjanjian Lama dan
Tulisan Dalam Bahasa Aramaik (Dok. GATRA)Baru) diperkenalkan kepada penduduk dalam bahasa Arab (bahasanya orang Mekkah). Isinya masih murni keagamaan.

Namun, suasana berubah ketika periode Medinah, di mana argumen politik lebih mencolok. Peraturan sosial-politik (yang berkait dengan pernikahan, perceraian, warisan, dan sebagainya) ditambahkan setelah berdirinya Imperiun Arab. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan nasehat keagamaan yang asli. Nama ''Qur'an'' tetap dipertahankan, tak ayal lagi, untuk meminjamkan otoritas ketuhanan pada peraturan sosial-politik.

Bagaimana Anda berkesimpulan bahwa teks Al-Quran asli adalah kombinasi bahasa Arab dan Aramaic?

Itu hasil analisis filologi yang cermat terhadap teks Al-Quran. Untuk membuat karya tiruan pada masa kemunculan Al-Quran, orang harus menguasai dua bahasa sekaligus, Arab dan Aramaic.

Adakah bukti sejarah bahwa teks Al-Quran asli berbahasa Aramaic?

Buktinya adalah teks Al-Quran itu sendiri. Selain itu, perlu mengetahui lingkungan keagamaan Semenanjung Arab--serta wilayah Syro-Mesopotamia pada saat munculnya Al-Quran. Investigasi filologis terhadap teks Al-Quran akan membuatnya jelas. Untuk bisa mengapresiasi ini, orang perlu membaca Qur'an.

Majalah Newsweek menyebut bahwa ujung analisis filologi Anda adalah pernyataan bahwa Qur'an hanya jiplakan Injil. Benarkah?

Soal ini telah dijawab sebagian. Untuk memahaminya, perlu disadari bahwa Al-Quran --menurut tradisi Islam-- dikembangkan lebih 20 tahun. Bukti tertulis Al-Quran pada zaman Kalifah Usman hilang sama sekali. Manuskrip Al-Quran paling awal yang terpelihara pada zaman kita, menurut temuan yang ada, berasal dari periode paruh pertama abad ke-18. Fakta bahwa Khalifah Abdel Malik bin Marwan memerintahkan menghancurkan semua kopi Al-Quran Usmani bahkan Al-Quran yang disimpan Hafsah, tidak memberi evaluasi lebih akan temuan-temuan ini.

Benarkah kalimat dalam Qur'an versi Arab yang menyebut Muhammad sebagai penutup para Nabi, ketika dibaca dengan bahasa Aramaic artinya berubah menjadi: Muhammad adalah saksi atas kebenaran teks Yahudi-Kristen?

Persis. Alasan filosofis untuk pengertian ini menyusul dalam buku saya berikutnya. Sebagai penegasan atas pemahaman ini saya merujuk Al-Qur'an Surat 14:4, ''Kami tidak akan mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka''.

Kalimat itu saja sudah mementalkan pemahaman bahwa Muhammad adalah Rasul terakhir. Karena hal itu akan berlawanan dengan pesan Al-Quran bahwa Tuhan bebas mengirim utusan ke setiap bangsa dalam bahasanya masing-masing. Dengan alasan ini, pengertian versi Arab yang berarti "Nabi penutup", dalam versi Aramaic bisa dipahami sebagai ''seseorang yang menyokong nabi-nabi sebelumnya.''

[Laporan Utama, GATRA No. 37 Beredar Senin 28 Juli 2003]

Label:


Komentar:

Posting Komentar

SIlahkan anda komentari beberapa layanan blob kami

Berlangganan Posting Komentar [Atom]





<< Beranda

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Berlangganan Komentar [Atom]