Sabtu, 16 Mei 2009
capres-cawapres
SBY TETAP PILIH BOEDIONO
Pro-kontra pencalonan cawapres yang diusung pimpinan partai demokrat, Boediono akhirnya diresmikan sebagai pasangan capres dan cawapres dalam pilpres yang akan digelar pada 8 juli 2009 mendatang. Peresmian duet SBY-Boediono dideklarasikan di Gedung Sambuga Bandung, jumat(15/5) lalu.
Beberapa alasan SBY memilih Gubernur BI Boediono sebagai cawapres : Pertama, Boediono adalah seorang muslim yang lurus, jujur sederhana konsisten dan toleran.Kedua, seorang teknokrat dan ekonom yang cerdas ulet keras dalam bekerja, dan bertanggung jawab, loyal, cermat, tidak grusa-grusu dan jauh dari keinginan untuk mencari muka.Ketiga, dalam menjalankan tugas jauh dari konflik kepentingan.
Alasan SBY itu belum mewakili dari koalisi partai pendukung demokarat, kenapa SBY tidak memberikan alasan yang jelas kepada empat partai; PKS,PAN,PPP dan PKB?.
Apakah SBY kwatir jika memilih salah satu dari keempat partai tersebut, lalu partai yang tidak digandeng cawapres akan cemburu?.
Latar belakang partai PKS,PAN, PPP dan PKB merupakan ormas muslim dengan logo dan visi-misi yang berbeda, apakah SBY kesulitan untuk mengangkat cawapres dari partai-partai islam. Partai Islam terkesan terbelakang semenjak kegagalan dalam Pileg 9 April lalu. Suara partai Islam tidak mencapai 20%, total suara yang diperoleh hanya 17,2%. Perolehan jumlah suara sangat tidak signifikan dengan jumlah penduduk muslim di Indonesia dengan presetase penduduk 87%.
Nasib partai islam kini hanya menjadi bantal partai-partai nasionalis-demokratis, partai islam seakan-akan memasrahkan diri karena basis mereka saat ini terkontaminasai oleh kepercayaan dan dukungan kepada Demokrat yang dipandang berhasil membawa rakyat kearah yang lebih baik dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, yang dipandang lebih banyak memberikan janji-janji ketimbang bukti yang diwujudkan kepada rakyat.
Pro-kontra pencalonan cawapres yang diusung pimpinan partai demokrat, Boediono akhirnya diresmikan sebagai pasangan capres dan cawapres dalam pilpres yang akan digelar pada 8 juli 2009 mendatang. Peresmian duet SBY-Boediono dideklarasikan di Gedung Sambuga Bandung, jumat(15/5) lalu.
Beberapa alasan SBY memilih Gubernur BI Boediono sebagai cawapres : Pertama, Boediono adalah seorang muslim yang lurus, jujur sederhana konsisten dan toleran.Kedua, seorang teknokrat dan ekonom yang cerdas ulet keras dalam bekerja, dan bertanggung jawab, loyal, cermat, tidak grusa-grusu dan jauh dari keinginan untuk mencari muka.Ketiga, dalam menjalankan tugas jauh dari konflik kepentingan.
Alasan SBY itu belum mewakili dari koalisi partai pendukung demokarat, kenapa SBY tidak memberikan alasan yang jelas kepada empat partai; PKS,PAN,PPP dan PKB?.
Apakah SBY kwatir jika memilih salah satu dari keempat partai tersebut, lalu partai yang tidak digandeng cawapres akan cemburu?.
Latar belakang partai PKS,PAN, PPP dan PKB merupakan ormas muslim dengan logo dan visi-misi yang berbeda, apakah SBY kesulitan untuk mengangkat cawapres dari partai-partai islam. Partai Islam terkesan terbelakang semenjak kegagalan dalam Pileg 9 April lalu. Suara partai Islam tidak mencapai 20%, total suara yang diperoleh hanya 17,2%. Perolehan jumlah suara sangat tidak signifikan dengan jumlah penduduk muslim di Indonesia dengan presetase penduduk 87%.
Nasib partai islam kini hanya menjadi bantal partai-partai nasionalis-demokratis, partai islam seakan-akan memasrahkan diri karena basis mereka saat ini terkontaminasai oleh kepercayaan dan dukungan kepada Demokrat yang dipandang berhasil membawa rakyat kearah yang lebih baik dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, yang dipandang lebih banyak memberikan janji-janji ketimbang bukti yang diwujudkan kepada rakyat.
Label: artikel, movie, tembakau
Selasa, 12 Mei 2009
Keris
KERIS DALAM BUDAYA MASYARAKAT MADURA
Oleh : RB. Ahmad Ramadan
PENDAHULUAN
Selama ini masyarakat luas mengenal pulau Madura hanya dari aspek kebudayaan yang berupa kerapan sapi dan carok. Kerapan sapi dianggap sebagai ikon masyarakat madura di bidang hiburan dan seni pertunjukan, sedangkan carok dianggap sebagai sebuah aktifitas masyarakat yang berkaitan dengan kepribadian umum masyarakat Madura. Masyarakat Madura dikenal juga sebagai etnis yang religius dan menampilkan kesan kelompok masyarakat yang fanatik terhadap agama yang dianut dan diyakininya.
Sebenarnya masyarakat Madura hidup dengan aspek budaya yang unik, karena didalam kehidupan masyarakat Madura sendiri memiliki pola dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Secara administratif pemerintahan, Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Walaupun secara garis besar suku bangsa mereka sama-sama berasal dari suku bangsa Madura, namun masyarakat di masing-masing kabupaten didalam aktifitas kesehariannya memiliki corak dan khas yang berbeda-beda.
Berdasarkan hasil pengamatan sementara, pandangan hidup antara masyarakat Madura pesisir utara dan masyarakat Madura yang berada di pesisir selatan memiliki perbedaan pola dan pandangan hidup. Masyarakat Madura yang berada dibagian pesisir utara terkesan memiliki pola dan pandangan hidup yang masih tradisional, bahkan terkesan sebagai kelompok masyarakat yang terbelakang dalam bidang pendidikan yang berbeda dengan masyarakat Madura yang berada di pesisir selatan yang dianggap kelompok masyarakat yang sudah mulai mengalami masa transisi menuju masyarakat modern.
Selama ini masyarakat banyak yang kurang memamahi kebudayaan Madura yang esensial. Masyarakat hanya memahami kebudayaan Madura dari sisi permukaan saja, tanpa memahami konsep umum kebudayaan Madura. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya literatur yang berkaitan dengan penelitian terhadap kebudayaan Madura secara khusus dan mendalam. Selama ini, literatur yang ada hanya menggambarkan perkembangan budaya masyarakat Madura secara universal dan terkesan bersifat subjektif.
Untuk ketaatan terhadap agama, masyarakat Madura terkesan kelompok masyarakat yang fanatik terhadap agama yang dianutnya. Ketaatan mereka terhadap agama juga diiringi dengan perhatian mereka terhadap hal-hal yang berbau magis, seperti dalam upacara perkawinan,kelahiran, kematian dan beberapa hal yang berkaitan dengan mata pencaharian mereka serta perlakuan masyarakat terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Perhatian mereka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan magis dan ritus turut mewarnai dan memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat Madura.
Salah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah perhatian masyarakat Madura terhadap benda pusaka yang berupa Keris ataupun jenis tosan aji yang lain. Keyakinan masyarakat terhadap nilai-nilai magis yang terkandung di dalam benda-benda pusaka tersebut menyebabkan masyarakat Madura memiliki dan menyimpan benda pusaka tersebut di rumah atau bahkan menjadikan benda-benda- tersebut sebagai sebuah "sikep". Perburuan terhadap keberadaan benda-benda pusaka itu dilakukan masyarakat Madura hingga ke daerah luar Pulau Madura.
Keris dianggap sebagai sebuah benda yang keramat oleh masyarakat Madura memiliki karakter yang unik dan khas yang dapat menandakan corak perkembangan kehidupan masyarakat dari masa ke masa. Selain itu ciri khas dan unik yang terdapat pada keris juga dapat menjadi sistem pertanda tentang kehidupan sosial masyarakat Madura yang paternalistik.
Selain mengandung unsur-unsur religi, keris juga memiliki unsur-unsur lain yang terkandung didalamnya. Unsur seni yang terdapat pada sebuah keris tidak hanya pada sisi estetika saja, namun dari sisi religius dan etika masih tetap ditampilkan. Sisi religi pada sebuah keris bisa ditampakkan melalui keyakinan masyarakat terhadap kekuatan magis yang terkandung pada sebuah keris, hingga menimbulkan tradisi.- dalam memperlakukan sebuah keris seperti tradisi mewarangi, atau memabndikan keris, tradisi "ngokop" keris pada hari-hari tertentu, dan memolesi dengan minyak yang harum. Sedangkan sisi etika dalam sebuah keris ditunjukkan melalui cara mereka dalam menyandang keris, membuka keris, dan sebagainya, bahkan dalam memilih kerispun dengan cara meminta pertimbangan pada pemimpin sosial-religi masyarakat. Kebiasaan masyarakat untuk meminta pandangan dari tokoh-tokoh sentral masyarakat masih berlangsung hingga masa kini.
Secara umum, pandangan atau konsepsi masyarakat Jawa dan Madura memiliki beberapa perbedaan yang dianggap menjadi ciri khas dari masing-masing budaya. Perbedaan konsepsi inilah yang akan menjadi titik tekan dalam proses pembuatan makalah ini. Perbedaan konsepsi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah bentuk kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang memiliki perbedaan. Secara sederhana kita dapat menilai bahwa kehidupan masyarakat Jawa dan Madura memiliki perbedaan. Namun yang menjadi titik tekan dalam makalah ini adalah perbedaan konsepsi dan persepsi masyarakat terhadap sebuah benda pusaka yang bernama keris.
Gambaran Umum Keris Madura
Pada perkembangan masyarakat madura, keris yang dibuat sebelum abad ke-16 sampai abad ke-17 tidak hanya memiliki fungsi sebagai peralatan perang para prajurit. Keris yang dalam bahasa Madura tingkat halus, disebut "abinan" dianggap sebagai sebuah senjata tajam yang juga memiliki kekuatan magis. Sebelum pembuatan keris dilakukan, terlebih dahulu sang empu melakukan ritual khusus yang disebut "pojja " yaitu sebuah ritual yang berupa tapa untuk memohon kepada Tuhan dalam keadaan berkelakuan yang suci, meminta dengan berendah diri lahir-batin agar keris yang akan, dibuatnya tersebut mampu memberikan dorongan kepada orang yang memakainya agar supaya selalu berkelakuan baik, selamat dan jauh dari semua perbuatan yang kurang baik. Dalam proses sebelum pembuatan, biasanya sang empu akan membawa besi calon keris yang akan dibuatanya ke pasar atau ke temp'at yang ramai. Jika masyarakat masih dapat melihat besi yang dibawa sang empu, maka sang empu akan mengulangi tapanya sampai besi tersebut benar-benar tidak terlihat lagi oleh masyarakat umum, barulah sang empu melanjutkan ke tahap pembuatan keris.
Setelah keris selesai dibuat, sang empu melakukan tahapan akhir pembuatan keris yaitu penyempuhan dengan cara menambahkan racun didalamnya, lalu sang empu mengatakan sepatah-dua kata misalnya : Selamat, jaya, kaya dan lain sebagainya. Hal ini dipercaya bahwa keris tersebut memiliki kegunaan bagi pemakainya seperti kata-kata yang diucapkan oleh sang empu. Untuk menguji kekerasan besi keris, sang empu menguji keris yang dibuatnya dengan cara menusukkan keris tersebut kekulit kerbau putih yang sudah dikeringkan. Biasanya keris yang dibuat pada abad-abad tersebut memiliki tiga atau empat lapis pamor saja pada masing-masing bilahnya.
Keris yang dibuat pada abad tersebut, masyarakat lebih mengenalnya sebagai keris judhagati, tesnagati yang dipercaya mengandung khaslat untuk menambah keberanian (madura = tatag), untuk mengusir musuh dan sebagai sikep dalam peperangan.
Konsepsi tentang keberadaan keris masyarakat Madura mulai mengalami perubahan orientasi pada abad ke-18 dan ke-19. Puncak kejayaan pembuatan keris terjadi pada abad ini. Banyak empu-empu yang menghasilkan karyanya pada masa itu. Keris tidak hanya berkedudukan sebagai senjata. Pada abad tersebut keris digunakan sebagai benda keramat yang dianggap bisa menjadi media untuk memperoleh keselamatan melalui kekuatan magis yang tersimpan di dalamnya. Selain berkedudukan sebagai media untuk memperoleh keselamatan, keris juga mengalami perkembangan pada bidang seni pamor-nya. Keris yang dibuat pada kisaran abad ke-18 dan ke-19. memiliki perkembangan nilai estetika melalui seni bentuk dan seni pamor yang terdapat di dalamnya.
Pada abad ke-21, pengrajin keris mulai merubah persepsi dalam proses tujuan pembuatan sebuah keris. Persebaran pengrajin keris di Kabupaten Sumenep banyak terdapat di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Keris yang dibuat pada abad ke-21 hanya menampilkan sisi estetika pada sebuah keris yang tercermin dari bentuk keris serta pamor yang terkandung di dalam sebuah keris. Unsur seni yang terdapat dalam sebuah keris semakin menunjukkan bahwa keberadaan keris bagi masyarakat Madura masih begitu penting. Pada masa ini, keris tidak lagi dianggap sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan magis, tetapi dianggap sebagai sebuah benda seni yang memiliki nilai ekonomi yang dapat dipejual belikan untuk dijadikan sebagai sebuah cendera mata ataupun karya seni untuk di koleksi.
Karakteristik Keris Madura
Secara umum mengenai persepsi dan fungsi keris yang dipahami oleh masyarakat Jawa dan Madura memiliki persamaan. Keris yang dianggap sebagai sebuah benda pusaka yang keramat tidak hanya memiliki kekuatan magis di dalamnya tetapi juga memiliki nilai histories, falsafah serta nilai-nilai seni yang ditampilkan pada seni bentuk dan seni pamor. Keris juga digunakan sebagai aksesoris bagi busana yang digunakan kaum pria dan diyakini mampu memberikan perlindungan terhadap keselamatan orang yang memilikinya.
Seiring dengan perjalanan sejarah persebaran kens, pada masing-masing daerah persebaran budaya yang berkaitan dengan benda pusaka ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat menandakan corak kehidupah masyarakatnya. Keris Madura memiliki bentuk yang khas serta ricikan yang sangat sederhana. Secara umum yang menggambarkan perbedaan antara keris Jawa dan Madura adalah pada seni bentuk serta corak pamornyaL.
Perbedaan bentuk yang dimaksudkan dalam penjelasan diatas adalah perbedaan pada bagian "sor-soran". Umumnya ganja pada keris Madura berukuran lebih pendek bila dibandingkan dengan ganja pada keris Jawa. Hingga jika ditarik garis vertikal sampai ujung ganja membentuk sebuah pola yang agak kaku dan oleh masyarakat Madura disebut sebagai pola noron pjan seperti yang tertera pada gambar dibawah ini (gambar 1).
Nama ricikan keris Madura banyak memiliki persamaan dengan nama-nama ricikan keris Jawa. Penamaan pada ricikan keris Madura pada akhirnya menimbulkan kesan bahwa nama ricikan keris Madura berasal dari bahasa Jawa yang di Madura-kan, misalnya Gonjo Madura-nya ganca, peksi Madura-nya pakse pucuk Madura-nya pamoco k greneng Madura-nya garining.
Sedangkan nama ricikan yang berasal dari bahasa Madura asli diantaranya: Keloran (sogokan), pejetan (papakang), koko macan (kembang kacang), bubung (ada-ada), batton (gusen). Selain itu, dikenal juga sebutan pang bar at dalam (bilah bagian dalam) dan pang bar at luar (bilah bagian luar)
gambar 2. pang bar at dalam gambar 3. pang bar at luar
Sebagian masyarakat mempercayai bahwa sebuah keris harus lebih banyak dan lebih bagus pamornya dibagian pang barat dalam-nya dari pada pang barat luar, mereka beranggapan bahwa pang barat dalam adalah gambaran masa depan sedangkan pang barat luar adalah gambaran keadaan kita pada masa sekarang. Dikenal pula istilah ajub dalam yaitu pamor yang berada di ujung keris pang barat dalam terlihat lebih menonjol dari pada pamor yang berada di ujung pang barat luar. Ini juga dipercaya bahwa si pemilik keris tersebut tidak akan kedahuluan lawannya dalam peperangan dan Iain-lain. Sedangkan ajub luar adalah sebaliknya.
Kebiasaan masyarakat Madura tentang proses memilih keris yang diyakini memiliki kecocokan dengan si pemilik diantaranya dilakukan dengan cara pal. Pal adalah cara memilih dan menilai keris dengan cara mengukur bilah keris dengan menggunakan ukuran jempol, benang, serta tangan dengan ukuran tertentu. Selain melihat keris dari seni bentuk dan seni pamor, pal juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan masyarakat dalam memilih sebuah keris agar dapat menunjang perjalanan hidup mereka di masa depan.
Cara lain yang dilakukan mereka untuk memilih sebuah keris diantaranya dengan cara meminta pertimbangan dan pendapat pada tokoh masyarakat yang dianggap ahli tentang keris baik dari segi fisik maupun nilai mistik yang terkandung di dalam sebuah keris. Keberadaan tokoh masyarakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sistem sosial mereka yang patemalistik. Mereka dapat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan suatu pilihan, termasuk pula di dalamnya bagaimana cara mereka memilih keris.
Alternatif lain yang dilakukan masyarakat untuk memilih sebuah keris ialah dengan menilai kualitas empu-nya. Mereka cenderung memilih keris yang dibuat oleh seorang empu yang terkenal, memiliki budi pekerti luhur, dan dianggap memiliki kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Perkembangan mitos dan legenda dalam masyarakat yang berkaitan dengan para empu akan turut berpengaruh terhadap alasan masyarakat memilih sebuah keris. Mereka tidak menilai keris hanya dari seni bentuk dan seni pamor-nya saja, tetapi melakukan penilaian terhadap sebuah keris dari bobot spiritual empu yang membuatnya.
PENUTUP
Keris merupakan senjata tradisional yang masih popular bagi masyarakat dan memiliki wilayah persebaran yang cukup luas. Keris tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Madura, keris dijadikan sebagai pusaka yang memiliki hubungan dengan nilai histories, falsafah dan nilai-nilai seni. Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah keris meliputi nilai religi, etika dan nilai estetika.
Kepercayaan terhadap kekuatan mistik yang terkandung di dalam keris merupakan cerminan dari nilai religi pada sebuah keris. Keindahan pada seni bentuk dan seni pamor mewakili nilai estetika pada sebuah keris. Sedangkan pada nilai etika, ditunjukkan dengan cara masyarakat memperlakukan keris yang merupakan warisan budaya pada generasi berikutnya.
Pelaksanaan kajian ilmiah tentang keberadaan keris sebagai salah satu bentuk warisan budaya, diharapkan dapat memberikan pemahaman secara komprehensif bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
- Abdurrahman, Drs. 1979. Selayang Pandang Sejarah Sumenep.
Sumenep : The Sun.
- Fatah, Zainal. 1942. Pengertian Tentang Keris Di Pulau Madura.
Oleh : RB. Ahmad Ramadan
PENDAHULUAN
Selama ini masyarakat luas mengenal pulau Madura hanya dari aspek kebudayaan yang berupa kerapan sapi dan carok. Kerapan sapi dianggap sebagai ikon masyarakat madura di bidang hiburan dan seni pertunjukan, sedangkan carok dianggap sebagai sebuah aktifitas masyarakat yang berkaitan dengan kepribadian umum masyarakat Madura. Masyarakat Madura dikenal juga sebagai etnis yang religius dan menampilkan kesan kelompok masyarakat yang fanatik terhadap agama yang dianut dan diyakininya.
Sebenarnya masyarakat Madura hidup dengan aspek budaya yang unik, karena didalam kehidupan masyarakat Madura sendiri memiliki pola dan pandangan hidup yang berbeda-beda. Secara administratif pemerintahan, Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Walaupun secara garis besar suku bangsa mereka sama-sama berasal dari suku bangsa Madura, namun masyarakat di masing-masing kabupaten didalam aktifitas kesehariannya memiliki corak dan khas yang berbeda-beda.
Berdasarkan hasil pengamatan sementara, pandangan hidup antara masyarakat Madura pesisir utara dan masyarakat Madura yang berada di pesisir selatan memiliki perbedaan pola dan pandangan hidup. Masyarakat Madura yang berada dibagian pesisir utara terkesan memiliki pola dan pandangan hidup yang masih tradisional, bahkan terkesan sebagai kelompok masyarakat yang terbelakang dalam bidang pendidikan yang berbeda dengan masyarakat Madura yang berada di pesisir selatan yang dianggap kelompok masyarakat yang sudah mulai mengalami masa transisi menuju masyarakat modern.
Selama ini masyarakat banyak yang kurang memamahi kebudayaan Madura yang esensial. Masyarakat hanya memahami kebudayaan Madura dari sisi permukaan saja, tanpa memahami konsep umum kebudayaan Madura. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya literatur yang berkaitan dengan penelitian terhadap kebudayaan Madura secara khusus dan mendalam. Selama ini, literatur yang ada hanya menggambarkan perkembangan budaya masyarakat Madura secara universal dan terkesan bersifat subjektif.
Untuk ketaatan terhadap agama, masyarakat Madura terkesan kelompok masyarakat yang fanatik terhadap agama yang dianutnya. Ketaatan mereka terhadap agama juga diiringi dengan perhatian mereka terhadap hal-hal yang berbau magis, seperti dalam upacara perkawinan,kelahiran, kematian dan beberapa hal yang berkaitan dengan mata pencaharian mereka serta perlakuan masyarakat terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan magis. Perhatian mereka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan magis dan ritus turut mewarnai dan memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat Madura.
Salah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah perhatian masyarakat Madura terhadap benda pusaka yang berupa Keris ataupun jenis tosan aji yang lain. Keyakinan masyarakat terhadap nilai-nilai magis yang terkandung di dalam benda-benda pusaka tersebut menyebabkan masyarakat Madura memiliki dan menyimpan benda pusaka tersebut di rumah atau bahkan menjadikan benda-benda- tersebut sebagai sebuah "sikep". Perburuan terhadap keberadaan benda-benda pusaka itu dilakukan masyarakat Madura hingga ke daerah luar Pulau Madura.
Keris dianggap sebagai sebuah benda yang keramat oleh masyarakat Madura memiliki karakter yang unik dan khas yang dapat menandakan corak perkembangan kehidupan masyarakat dari masa ke masa. Selain itu ciri khas dan unik yang terdapat pada keris juga dapat menjadi sistem pertanda tentang kehidupan sosial masyarakat Madura yang paternalistik.
Selain mengandung unsur-unsur religi, keris juga memiliki unsur-unsur lain yang terkandung didalamnya. Unsur seni yang terdapat pada sebuah keris tidak hanya pada sisi estetika saja, namun dari sisi religius dan etika masih tetap ditampilkan. Sisi religi pada sebuah keris bisa ditampakkan melalui keyakinan masyarakat terhadap kekuatan magis yang terkandung pada sebuah keris, hingga menimbulkan tradisi.- dalam memperlakukan sebuah keris seperti tradisi mewarangi, atau memabndikan keris, tradisi "ngokop" keris pada hari-hari tertentu, dan memolesi dengan minyak yang harum. Sedangkan sisi etika dalam sebuah keris ditunjukkan melalui cara mereka dalam menyandang keris, membuka keris, dan sebagainya, bahkan dalam memilih kerispun dengan cara meminta pertimbangan pada pemimpin sosial-religi masyarakat. Kebiasaan masyarakat untuk meminta pandangan dari tokoh-tokoh sentral masyarakat masih berlangsung hingga masa kini.
Secara umum, pandangan atau konsepsi masyarakat Jawa dan Madura memiliki beberapa perbedaan yang dianggap menjadi ciri khas dari masing-masing budaya. Perbedaan konsepsi inilah yang akan menjadi titik tekan dalam proses pembuatan makalah ini. Perbedaan konsepsi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah bentuk kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang memiliki perbedaan. Secara sederhana kita dapat menilai bahwa kehidupan masyarakat Jawa dan Madura memiliki perbedaan. Namun yang menjadi titik tekan dalam makalah ini adalah perbedaan konsepsi dan persepsi masyarakat terhadap sebuah benda pusaka yang bernama keris.
Gambaran Umum Keris Madura
Pada perkembangan masyarakat madura, keris yang dibuat sebelum abad ke-16 sampai abad ke-17 tidak hanya memiliki fungsi sebagai peralatan perang para prajurit. Keris yang dalam bahasa Madura tingkat halus, disebut "abinan" dianggap sebagai sebuah senjata tajam yang juga memiliki kekuatan magis. Sebelum pembuatan keris dilakukan, terlebih dahulu sang empu melakukan ritual khusus yang disebut "pojja " yaitu sebuah ritual yang berupa tapa untuk memohon kepada Tuhan dalam keadaan berkelakuan yang suci, meminta dengan berendah diri lahir-batin agar keris yang akan, dibuatnya tersebut mampu memberikan dorongan kepada orang yang memakainya agar supaya selalu berkelakuan baik, selamat dan jauh dari semua perbuatan yang kurang baik. Dalam proses sebelum pembuatan, biasanya sang empu akan membawa besi calon keris yang akan dibuatanya ke pasar atau ke temp'at yang ramai. Jika masyarakat masih dapat melihat besi yang dibawa sang empu, maka sang empu akan mengulangi tapanya sampai besi tersebut benar-benar tidak terlihat lagi oleh masyarakat umum, barulah sang empu melanjutkan ke tahap pembuatan keris.
Setelah keris selesai dibuat, sang empu melakukan tahapan akhir pembuatan keris yaitu penyempuhan dengan cara menambahkan racun didalamnya, lalu sang empu mengatakan sepatah-dua kata misalnya : Selamat, jaya, kaya dan lain sebagainya. Hal ini dipercaya bahwa keris tersebut memiliki kegunaan bagi pemakainya seperti kata-kata yang diucapkan oleh sang empu. Untuk menguji kekerasan besi keris, sang empu menguji keris yang dibuatnya dengan cara menusukkan keris tersebut kekulit kerbau putih yang sudah dikeringkan. Biasanya keris yang dibuat pada abad-abad tersebut memiliki tiga atau empat lapis pamor saja pada masing-masing bilahnya.
Keris yang dibuat pada abad tersebut, masyarakat lebih mengenalnya sebagai keris judhagati, tesnagati yang dipercaya mengandung khaslat untuk menambah keberanian (madura = tatag), untuk mengusir musuh dan sebagai sikep dalam peperangan.
Konsepsi tentang keberadaan keris masyarakat Madura mulai mengalami perubahan orientasi pada abad ke-18 dan ke-19. Puncak kejayaan pembuatan keris terjadi pada abad ini. Banyak empu-empu yang menghasilkan karyanya pada masa itu. Keris tidak hanya berkedudukan sebagai senjata. Pada abad tersebut keris digunakan sebagai benda keramat yang dianggap bisa menjadi media untuk memperoleh keselamatan melalui kekuatan magis yang tersimpan di dalamnya. Selain berkedudukan sebagai media untuk memperoleh keselamatan, keris juga mengalami perkembangan pada bidang seni pamor-nya. Keris yang dibuat pada kisaran abad ke-18 dan ke-19. memiliki perkembangan nilai estetika melalui seni bentuk dan seni pamor yang terdapat di dalamnya.
Pada abad ke-21, pengrajin keris mulai merubah persepsi dalam proses tujuan pembuatan sebuah keris. Persebaran pengrajin keris di Kabupaten Sumenep banyak terdapat di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Keris yang dibuat pada abad ke-21 hanya menampilkan sisi estetika pada sebuah keris yang tercermin dari bentuk keris serta pamor yang terkandung di dalam sebuah keris. Unsur seni yang terdapat dalam sebuah keris semakin menunjukkan bahwa keberadaan keris bagi masyarakat Madura masih begitu penting. Pada masa ini, keris tidak lagi dianggap sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan magis, tetapi dianggap sebagai sebuah benda seni yang memiliki nilai ekonomi yang dapat dipejual belikan untuk dijadikan sebagai sebuah cendera mata ataupun karya seni untuk di koleksi.
Karakteristik Keris Madura
Secara umum mengenai persepsi dan fungsi keris yang dipahami oleh masyarakat Jawa dan Madura memiliki persamaan. Keris yang dianggap sebagai sebuah benda pusaka yang keramat tidak hanya memiliki kekuatan magis di dalamnya tetapi juga memiliki nilai histories, falsafah serta nilai-nilai seni yang ditampilkan pada seni bentuk dan seni pamor. Keris juga digunakan sebagai aksesoris bagi busana yang digunakan kaum pria dan diyakini mampu memberikan perlindungan terhadap keselamatan orang yang memilikinya.
Seiring dengan perjalanan sejarah persebaran kens, pada masing-masing daerah persebaran budaya yang berkaitan dengan benda pusaka ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat menandakan corak kehidupah masyarakatnya. Keris Madura memiliki bentuk yang khas serta ricikan yang sangat sederhana. Secara umum yang menggambarkan perbedaan antara keris Jawa dan Madura adalah pada seni bentuk serta corak pamornyaL.
Perbedaan bentuk yang dimaksudkan dalam penjelasan diatas adalah perbedaan pada bagian "sor-soran". Umumnya ganja pada keris Madura berukuran lebih pendek bila dibandingkan dengan ganja pada keris Jawa. Hingga jika ditarik garis vertikal sampai ujung ganja membentuk sebuah pola yang agak kaku dan oleh masyarakat Madura disebut sebagai pola noron pjan seperti yang tertera pada gambar dibawah ini (gambar 1).
Nama ricikan keris Madura banyak memiliki persamaan dengan nama-nama ricikan keris Jawa. Penamaan pada ricikan keris Madura pada akhirnya menimbulkan kesan bahwa nama ricikan keris Madura berasal dari bahasa Jawa yang di Madura-kan, misalnya Gonjo Madura-nya ganca, peksi Madura-nya pakse pucuk Madura-nya pamoco k greneng Madura-nya garining.
Sedangkan nama ricikan yang berasal dari bahasa Madura asli diantaranya: Keloran (sogokan), pejetan (papakang), koko macan (kembang kacang), bubung (ada-ada), batton (gusen). Selain itu, dikenal juga sebutan pang bar at dalam (bilah bagian dalam) dan pang bar at luar (bilah bagian luar)
gambar 2. pang bar at dalam gambar 3. pang bar at luar
Sebagian masyarakat mempercayai bahwa sebuah keris harus lebih banyak dan lebih bagus pamornya dibagian pang barat dalam-nya dari pada pang barat luar, mereka beranggapan bahwa pang barat dalam adalah gambaran masa depan sedangkan pang barat luar adalah gambaran keadaan kita pada masa sekarang. Dikenal pula istilah ajub dalam yaitu pamor yang berada di ujung keris pang barat dalam terlihat lebih menonjol dari pada pamor yang berada di ujung pang barat luar. Ini juga dipercaya bahwa si pemilik keris tersebut tidak akan kedahuluan lawannya dalam peperangan dan Iain-lain. Sedangkan ajub luar adalah sebaliknya.
Kebiasaan masyarakat Madura tentang proses memilih keris yang diyakini memiliki kecocokan dengan si pemilik diantaranya dilakukan dengan cara pal. Pal adalah cara memilih dan menilai keris dengan cara mengukur bilah keris dengan menggunakan ukuran jempol, benang, serta tangan dengan ukuran tertentu. Selain melihat keris dari seni bentuk dan seni pamor, pal juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan masyarakat dalam memilih sebuah keris agar dapat menunjang perjalanan hidup mereka di masa depan.
Cara lain yang dilakukan mereka untuk memilih sebuah keris diantaranya dengan cara meminta pertimbangan dan pendapat pada tokoh masyarakat yang dianggap ahli tentang keris baik dari segi fisik maupun nilai mistik yang terkandung di dalam sebuah keris. Keberadaan tokoh masyarakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sistem sosial mereka yang patemalistik. Mereka dapat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan suatu pilihan, termasuk pula di dalamnya bagaimana cara mereka memilih keris.
Alternatif lain yang dilakukan masyarakat untuk memilih sebuah keris ialah dengan menilai kualitas empu-nya. Mereka cenderung memilih keris yang dibuat oleh seorang empu yang terkenal, memiliki budi pekerti luhur, dan dianggap memiliki kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Perkembangan mitos dan legenda dalam masyarakat yang berkaitan dengan para empu akan turut berpengaruh terhadap alasan masyarakat memilih sebuah keris. Mereka tidak menilai keris hanya dari seni bentuk dan seni pamor-nya saja, tetapi melakukan penilaian terhadap sebuah keris dari bobot spiritual empu yang membuatnya.
PENUTUP
Keris merupakan senjata tradisional yang masih popular bagi masyarakat dan memiliki wilayah persebaran yang cukup luas. Keris tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Madura, keris dijadikan sebagai pusaka yang memiliki hubungan dengan nilai histories, falsafah dan nilai-nilai seni. Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah keris meliputi nilai religi, etika dan nilai estetika.
Kepercayaan terhadap kekuatan mistik yang terkandung di dalam keris merupakan cerminan dari nilai religi pada sebuah keris. Keindahan pada seni bentuk dan seni pamor mewakili nilai estetika pada sebuah keris. Sedangkan pada nilai etika, ditunjukkan dengan cara masyarakat memperlakukan keris yang merupakan warisan budaya pada generasi berikutnya.
Pelaksanaan kajian ilmiah tentang keberadaan keris sebagai salah satu bentuk warisan budaya, diharapkan dapat memberikan pemahaman secara komprehensif bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
- Abdurrahman, Drs. 1979. Selayang Pandang Sejarah Sumenep.
Sumenep : The Sun.
- Fatah, Zainal. 1942. Pengertian Tentang Keris Di Pulau Madura.
Senin, 11 Mei 2009
kerapan sapi
Minggu, 10 Mei 2009
Movie
1001 cara
Selasa, 2009 Februari 03
1.001 Cara Petani Tembakau Madura Kejar Harga (3)
Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto mengatakan, ciri orang yang tidak berkualitas adalah yang tidak punya pilihan dalam hidupnya.
Boleh jadi, seperti itulah kondisi petani tembakau di Madura. Mereka memilih komoditi tertentu karena terpaksa karena tidak ada pilihan lain.
Petani Madura sudah turun-temurun menanam tembakau. Bahkan menurut sejarah, tembakau diperkirakan merupakan tanaman asli Madura yang diperkenalkan oleh Pangeran Katandur sekitar abad ke-12.
Peneliti tata niaga tembakau Madura dari UK Petra Surabaya Prof Dr Thomas Santoso MSi mengemukakan, pendapat lain mengungkapkan bahwa tembakau diperkenalkan oleh orang Portugis pada akhir abad ke-16.
Terlepas dari mana yang benar, yang jelas tembakau memiliki ikatan sejarah panjang dengan petani di Madura.
Karena itulah sangat sulit bagi petani di Madura untuk pindah ke komoditas lain. Bahkan beberapa kali dicoba untuk mengalihkan petani tembakau ke tanaman lain, tapi semua gagal.
"Dulu pernah diperkenalkan tanaman bawang putih sebagai pengganti tembakau, tapi ternyata merugikan petani. Umumnya petani kurang pengetahuan mengenai pemeliharaan, penyimpanan, termasuk pemasaran hingga akhirnya busuk," kata Thomas Santoso.
Sekitar akhir tahun 1970-an hingga 1980-an, sejumlah petani di Kecamatan Larangan dan Kadur mencoba komiditi lain dan sukses, yakni jeruk. Saat itu hasil jeruk menjadi "saingan" utama tembakau.
Namun, petani tetap tidak bisa meninggalkan tembakau. Mereka tetap menanami areal kebun jeruknya dengan tembakau. Karena tumpangsari seperti itu, maka tanaman tembakau tidak terlalu bagus.
Karena sangat bagusnya tanaman jeruk ketika itu, Gubernur Jatim Basofi Soedirman menggagas tempat wisata agro di Larangan.
Basofi sudah meninjau Desa Lancar, Larangan, salah satu sentra penghasil jeruk.
Tapi, rencana itu belum terwujud, masa-masa kejayaan tanaman jeruk berakhir di penghujung tahun 1980-an. Diduga karena serangan virus CVPD yang menyerang bagian akar, hingga pohon jeruk banyak yang layu. Pohon jeruk yang terserang virus itu daunnya menguning dan produksi buahnya terus menurun.
Atas anjuran Dinas Perkebunan daerah, petani yang awalnya pasrah dengan keadaan itu kemudian menebang semua pohon jeruk serta mencabut akar-akarnya agar virusnya mati. Lahan yang sudah kena virus itu baru bisa ditanami jeruk lagi lima tahun setelah ditebang.
Namun hingga hampir 20 tahun setelahnya petani masih enggan untuk mencoba lagi komoditi jeruk. Apalagi para petani yang dulu berjuang menanam jeruk sudah banyak yang meninggal dan lahannya diganti oleh anak-anaknya yang tidak banyak tahu tentang jeruk.
Tak menguntungkan
Akhirnya para petani kembali ke pertanian yang sebetulnya tidak menjanjikan keuntungan, bahkan kemungkinan hingga tahun-tahun mendatang harga jual tembakau tidak membaik.
Hal itu dapat dilihat dari perkembangan harga tembakau dari tahun ke tahun yang tidak berubah, bahkan seringkali lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Thomas Susanto dalam laporan hasil penelitiannya menyebutkan, tahun 2000, harga tembakau dengan mutu kelas I sudah mencapai Rp24 ribu per kg, mutu kelas II Rp18.500, mutu kelas III Rp15.500dan mutu kelas IV Rp13 ribu.
Dengan harga demikian, petani tembakau saat itu masih bisa menikmati jerih payahnya. Namun ketika harga-harga naik seiring dengan melambungnya harga BBM, harga tembakau petani tidak berubah.
Tahun 2007 harga tembakau justru mencapai titik paling rendah hingga ada yang Rp4.000 per kg.
Namun menurut petani, saat setahun lalu itu harga-harga kebutuhan pokok masih belum melambung dibandingkan saat ini.
"Kalau dulu harga telur masih Rp500 per butir, sekarang sudah Rp1.000. Jadi sebetulnya meskipun harga tembakau sekarang lumayan bagus, petani tetap tidak menikmati apa-apa," kata Suha, seorang ibu rumah tangga yang juga petani.
Sejumlah petani lain mengemukakan bahwa dengan harga Rp20 ribu per kg, petani tidak menikmati untung. Mereka hanya menerima uang yang kalau dihitung biaya produksi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kelelahan mental dan fisik.
Biaya produksi tembakau di Madura tergolong tinggi karena perawatannya lebih rumit ditambah biaya pembelian air. Belum lagi biaya pekerja, terutama saat-saat masa panen.
Pada akhir Agustus 2008, harga tembakau rajangan di Pamekasan berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Meskipun demikian, harga yang paling banyak dinikmati petani adalah Rp17.000 hingga Rp21.000 per kilogram.
Di beberapa daerah yang letakknya di ketinggian, seperti di kawasan utara, dikabarkan harga tembakau mencapai Rp35.000 per kilogram. Namun untuk menemukan tembakau rajangan dengan kualitas seperti itu sangat sulit.
Memasuki September diperkirakan harga tembakau rajangan akan terus turun. Umumnya, saat awal panen harganya masih rendah, namun beberapa hari kemudian naik dan mencapai puncak harga biasanya hanya berkisar satu minggu.
Setelah itu harga akan terus turun bahkan mencapai titik terendah. Seperti pada 2007, petani terpuruk karena harga per kilogram mencapai Rp4.000. Dalam kondisi seperti ini petani tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali menerima kenyataan.
Guru Besar ekonomi manajemen UK Petra Surabaya Thomas Santoso mengemukakan bahwa saat ini memang sulit untuk meningkatkan nilai tawar petani tembakau karena tidak adanya aturan yang mengikat mengenai harga.
"Sebetulnya dalam banyak hal, kondisi sekarang sudah menguntungkan petani. Misalnya sekarang pemotongan sampel sudah dibatasi. Zaman dulu bisa mengambil sampel 2 kg - 3 kg setiap balnya. Jadi dulu dalam satu gudang selama satu musim bisa memiliki 100 ton dari sampel itu," kata profesor yang pernah lama tinggal di Pamekasan itu.
Akademisi yang ketika SMA pernah bekerja di gudang tembakau di Pamekasan itu secara berseloroh mengemukakan bahwa petani memang selalu menjadi korban.
Ia memelesetkan kata petani menjadi "penderita tata niaga".
Ia mengemukakan harga tembakau memang sangat dipengaruhi atau sering menjadi korban dari kenaikan komponen lain dari rokok. Misalnya jika harga cengkeh dan kertas naik, maka pabrik rokok akan menekan harga komponen lainnya.
"Satu-satunya yang bisa ditekan adalah tembakau. itu kan memang hukum dagang seperti itu. Kalau harga cengkeh dan kertas naik, kemudian harga tembakau ikut dinaikkan, konsekuensinya kan pabrik rokok menaikkan harga jual rokok. Itu yang sulit," katanya.
Karena itu, katanya, untuk membantu petani, pemerintah harus mengatur harga dasar tembakau seperti halnya cengkeh. Namun hal itu kemungkinan sulit direalisasikan karena akan memiliki dampak yang luas.
Hal yang mungkin bisa dilakukan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini dinas pertanian atau perkebunan adalah mendorong petani untuk mencoba komuditas lain, termasuk jeruk Madura yang juga memiliki kekhasan.
Dengan cara ini, maka produksi tembakau Madura akan terus turun. Diharapkan pada titik tertentu dari terus berkurangnya tembakau Madura, justru pabrik rokok yang nantinya membutuhkan tembakau Madura, sehingga harga bisa naik.
Masuki M. Astro (sumber: www.antarajatim.com)
1.001 Cara Petani Tembakau Madura Kejar Harga (3)
Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto mengatakan, ciri orang yang tidak berkualitas adalah yang tidak punya pilihan dalam hidupnya.
Boleh jadi, seperti itulah kondisi petani tembakau di Madura. Mereka memilih komoditi tertentu karena terpaksa karena tidak ada pilihan lain.
Petani Madura sudah turun-temurun menanam tembakau. Bahkan menurut sejarah, tembakau diperkirakan merupakan tanaman asli Madura yang diperkenalkan oleh Pangeran Katandur sekitar abad ke-12.
Peneliti tata niaga tembakau Madura dari UK Petra Surabaya Prof Dr Thomas Santoso MSi mengemukakan, pendapat lain mengungkapkan bahwa tembakau diperkenalkan oleh orang Portugis pada akhir abad ke-16.
Terlepas dari mana yang benar, yang jelas tembakau memiliki ikatan sejarah panjang dengan petani di Madura.
Karena itulah sangat sulit bagi petani di Madura untuk pindah ke komoditas lain. Bahkan beberapa kali dicoba untuk mengalihkan petani tembakau ke tanaman lain, tapi semua gagal.
"Dulu pernah diperkenalkan tanaman bawang putih sebagai pengganti tembakau, tapi ternyata merugikan petani. Umumnya petani kurang pengetahuan mengenai pemeliharaan, penyimpanan, termasuk pemasaran hingga akhirnya busuk," kata Thomas Santoso.
Sekitar akhir tahun 1970-an hingga 1980-an, sejumlah petani di Kecamatan Larangan dan Kadur mencoba komiditi lain dan sukses, yakni jeruk. Saat itu hasil jeruk menjadi "saingan" utama tembakau.
Namun, petani tetap tidak bisa meninggalkan tembakau. Mereka tetap menanami areal kebun jeruknya dengan tembakau. Karena tumpangsari seperti itu, maka tanaman tembakau tidak terlalu bagus.
Karena sangat bagusnya tanaman jeruk ketika itu, Gubernur Jatim Basofi Soedirman menggagas tempat wisata agro di Larangan.
Basofi sudah meninjau Desa Lancar, Larangan, salah satu sentra penghasil jeruk.
Tapi, rencana itu belum terwujud, masa-masa kejayaan tanaman jeruk berakhir di penghujung tahun 1980-an. Diduga karena serangan virus CVPD yang menyerang bagian akar, hingga pohon jeruk banyak yang layu. Pohon jeruk yang terserang virus itu daunnya menguning dan produksi buahnya terus menurun.
Atas anjuran Dinas Perkebunan daerah, petani yang awalnya pasrah dengan keadaan itu kemudian menebang semua pohon jeruk serta mencabut akar-akarnya agar virusnya mati. Lahan yang sudah kena virus itu baru bisa ditanami jeruk lagi lima tahun setelah ditebang.
Namun hingga hampir 20 tahun setelahnya petani masih enggan untuk mencoba lagi komoditi jeruk. Apalagi para petani yang dulu berjuang menanam jeruk sudah banyak yang meninggal dan lahannya diganti oleh anak-anaknya yang tidak banyak tahu tentang jeruk.
Tak menguntungkan
Akhirnya para petani kembali ke pertanian yang sebetulnya tidak menjanjikan keuntungan, bahkan kemungkinan hingga tahun-tahun mendatang harga jual tembakau tidak membaik.
Hal itu dapat dilihat dari perkembangan harga tembakau dari tahun ke tahun yang tidak berubah, bahkan seringkali lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Thomas Susanto dalam laporan hasil penelitiannya menyebutkan, tahun 2000, harga tembakau dengan mutu kelas I sudah mencapai Rp24 ribu per kg, mutu kelas II Rp18.500, mutu kelas III Rp15.500dan mutu kelas IV Rp13 ribu.
Dengan harga demikian, petani tembakau saat itu masih bisa menikmati jerih payahnya. Namun ketika harga-harga naik seiring dengan melambungnya harga BBM, harga tembakau petani tidak berubah.
Tahun 2007 harga tembakau justru mencapai titik paling rendah hingga ada yang Rp4.000 per kg.
Namun menurut petani, saat setahun lalu itu harga-harga kebutuhan pokok masih belum melambung dibandingkan saat ini.
"Kalau dulu harga telur masih Rp500 per butir, sekarang sudah Rp1.000. Jadi sebetulnya meskipun harga tembakau sekarang lumayan bagus, petani tetap tidak menikmati apa-apa," kata Suha, seorang ibu rumah tangga yang juga petani.
Sejumlah petani lain mengemukakan bahwa dengan harga Rp20 ribu per kg, petani tidak menikmati untung. Mereka hanya menerima uang yang kalau dihitung biaya produksi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kelelahan mental dan fisik.
Biaya produksi tembakau di Madura tergolong tinggi karena perawatannya lebih rumit ditambah biaya pembelian air. Belum lagi biaya pekerja, terutama saat-saat masa panen.
Pada akhir Agustus 2008, harga tembakau rajangan di Pamekasan berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Meskipun demikian, harga yang paling banyak dinikmati petani adalah Rp17.000 hingga Rp21.000 per kilogram.
Di beberapa daerah yang letakknya di ketinggian, seperti di kawasan utara, dikabarkan harga tembakau mencapai Rp35.000 per kilogram. Namun untuk menemukan tembakau rajangan dengan kualitas seperti itu sangat sulit.
Memasuki September diperkirakan harga tembakau rajangan akan terus turun. Umumnya, saat awal panen harganya masih rendah, namun beberapa hari kemudian naik dan mencapai puncak harga biasanya hanya berkisar satu minggu.
Setelah itu harga akan terus turun bahkan mencapai titik terendah. Seperti pada 2007, petani terpuruk karena harga per kilogram mencapai Rp4.000. Dalam kondisi seperti ini petani tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali menerima kenyataan.
Guru Besar ekonomi manajemen UK Petra Surabaya Thomas Santoso mengemukakan bahwa saat ini memang sulit untuk meningkatkan nilai tawar petani tembakau karena tidak adanya aturan yang mengikat mengenai harga.
"Sebetulnya dalam banyak hal, kondisi sekarang sudah menguntungkan petani. Misalnya sekarang pemotongan sampel sudah dibatasi. Zaman dulu bisa mengambil sampel 2 kg - 3 kg setiap balnya. Jadi dulu dalam satu gudang selama satu musim bisa memiliki 100 ton dari sampel itu," kata profesor yang pernah lama tinggal di Pamekasan itu.
Akademisi yang ketika SMA pernah bekerja di gudang tembakau di Pamekasan itu secara berseloroh mengemukakan bahwa petani memang selalu menjadi korban.
Ia memelesetkan kata petani menjadi "penderita tata niaga".
Ia mengemukakan harga tembakau memang sangat dipengaruhi atau sering menjadi korban dari kenaikan komponen lain dari rokok. Misalnya jika harga cengkeh dan kertas naik, maka pabrik rokok akan menekan harga komponen lainnya.
"Satu-satunya yang bisa ditekan adalah tembakau. itu kan memang hukum dagang seperti itu. Kalau harga cengkeh dan kertas naik, kemudian harga tembakau ikut dinaikkan, konsekuensinya kan pabrik rokok menaikkan harga jual rokok. Itu yang sulit," katanya.
Karena itu, katanya, untuk membantu petani, pemerintah harus mengatur harga dasar tembakau seperti halnya cengkeh. Namun hal itu kemungkinan sulit direalisasikan karena akan memiliki dampak yang luas.
Hal yang mungkin bisa dilakukan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini dinas pertanian atau perkebunan adalah mendorong petani untuk mencoba komuditas lain, termasuk jeruk Madura yang juga memiliki kekhasan.
Dengan cara ini, maka produksi tembakau Madura akan terus turun. Diharapkan pada titik tertentu dari terus berkurangnya tembakau Madura, justru pabrik rokok yang nantinya membutuhkan tembakau Madura, sehingga harga bisa naik.
Masuki M. Astro (sumber: www.antarajatim.com)
Label: tembakau
Berlangganan Postingan [Atom]
